Puluhan WNI terkait ISIS pulang, diantaranya memiliki kemampuan merakit bom

Puluhan-WNI-terkait-ISIS-pulang-diantaranya-memiliki-kemampuan-merakit-bom

TVN24 Online – Sejumlah warga negara Indonesia yang baru kembali dari Suriah setelah menjadi militan ISIS diyakini memiliki kemampuan untuk merakit bom. Salah satu mantan pejabat keamanan mengatakan bahwa keberadaan mereka harus diwaspadai oleh aparat keamanan.

Namun salah seorang pengamat terorisme menganggap tidak semua WNI yang kembali dari Suriah merupakan simpatisan ISIS. Sehingga kepulangan mereka ke Indonesia dapat dimanfaatkan untuk kampanye melawan ISIS.

Kepulangan beberapa warga negara Indonesia dari Suriah kembali mendapat sorotan setelah pelaku penyerangan anggota kepolisian Polda Sumut, Medan, diketahui pernah mengunjungi Suriah.

Pengakuan tersebut berasal dari belasan WNI yang mengaku sudah berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan militan ISIS. Mereka belakangan mengaku kecewa juga banyaknya tanggapan oleh masyarakat Indonesia.

Bagaimanapun, manatan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT ) Ansyaad Mbai mengatakan dari sekitar 700 WNI yang bergabung dengan militan ISIS di Suriah. Pada tahun lalu telah pulang ke Indonesia sebanyak 70-an.

“Saya kira pada tahun ini pasti ada lagi yang akan balik ke Indonesia. Hal ini dikarenakan situasi di Irak dan Suriah sudah tidak menguntungkan bagi ISIS. Di Irak, ISIS sudah mendeklarasikan kalah sedangkan di Suriah juga sudah pada melarikan diri. Jadi otomatis sebagian besar kembali ke negara masing- masing,” kata Ansyaad, Rabu ( 5/7/17 ).

Meskipun berdasarkan pernyataan dari Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Polisi Setyo Wasisto yang menyatakan belum ada data terkait dengan kepulangan WNI yang menjadi simpatisan ISIS. Dirinya mengakui memang telah ada puluhan dari mereka yang telah pulang ke Indonesia.

Salah satu dari mereka adalah SP yang melakukan penyerangan terhadap polisi di Polda Sumut pada 25 Juni lalu.

“Tersangka diketahui pernah bertempur di Suriah bersama ISIS beberapa tahun yang lalu,” kata Setyo, Kamis ( 29/6/17 ).

Baca : ISIS tabuh genderang perang, ancam jadikan Jakarta seperti Marawi 

Namun demikian, Ansyaad menilai sejumlah WNI yang telah pulang ke Indonesia dari Suriah tersebut sangat berbahaya. Hal ini dikarenakan masing-masing memiliki kemapuan untuk merakit senjata dan membuat bom.

Berdasarkan data yang dimilikinya, terdapat hampir 90an warga negara Indonesia yang tewas di Suriah termasuk bom bunuh diri. Karena pertempuran, nekadnya tidak kalah dengan teroris yang ada di Prancis, Inggris, Belgia dan bahkan Timur Tengah.

Namun, Ridwan Habib yang merupakan pengamat terorisme dari Universitas Indonesia menyakini tidak semua WNI yang berangkat ke Suriah memiliki kemampuan seperti yang digambarkan Ansyad Mbai.

“Bisa saja sewaktu di Suriah mereka hanya tukang masal. Jadi belum bisa ngapa-ngapain,” ujar Ridwan, Rabu ( 5/7/17 ).

Dirinya pun berkomentar, tidak semua WNI yang bertempur di Suriah mendukung ISIS. ” Banyak juga dari mereka yang merupakan anggota dari Front Anti Presiden Bashar al Assad dan tidak setuju dengan ISIS,”.

Ridwan kemudian mencontohkan Jabhat Al Nusra yang merupakan salah satu kelompok yang ikut bertempur di Suriah. Kelompok tersebut tidak sejalan dengan ISIS. Putra Abu Jibril, pimpinan Mujahidin Indonesia juga pernah berjuang untuk mereka.

Menurut Ridwan, WNI yang masuk kedalam kelompok seperti itu tidak terlalu menjadi ancaman. Karena menurut mereka Indonesia bukanlah negara yang bisa diperangi. Sementara itu ISIS menganggap semua negara bisa diperangi , termasuk Indonesia.

Dia melihat cukup banyaknya WNI yang telah bertempur di Suriah merupakan kelompok yang tidak mendukung ISIS. Karena Suriah sudah dilihat sebagai ‘Medan Jihad’.

“Mereka melihat seolah-olah Suriah itu seperti Afganistan pada tahun 1990an saat mau dijajah Uni Soviet. Sekarang mereka sedang melawan rezim Bashar Al Assad yang dianggap telah menindas kelompok Islam Sunni,” pungkasnya.

Dirinya juga menilai seharusnya yang lebih diwaspadai adalah WNI yang belum berangkat ke Suriah. Tetapi mereka memiliki semangat dari doktrin ISIS yang diperoleh dari media sosial misalnya kanal Telegram.

Ridwan kemudian memberi contoh pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu pada Rabu ( 24/5/17 ) malam. Ichwan Nurul Salam dan Ahmad Sukri merupakan pelaku yang belum pernah berangkat ke Suriah.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Polisi Wasisto bahkan pernah mengungkapkan bahwa mereka bahkan tidak memerlukan dana besar untuk melakukan aksi bom bunuh diri. Bahkan boleh dibilang modal tersebut sangat murah dalam membuat bom panci.

“Harga panci ini kan sangat murah. Hanya sekitar Rp.200 ribu. Total semua Rp.850 ribu, sudah bisa membuat bom. Logikannya ini kan sangat murah,” tutur Setyo, Kamis ( 22/6/17 ). ( TVN24 Online )