Gus Mus binggung cuma di Indonesia seorang ulama jadi pemimpin demo

gus-mus-binggung-cuma-di-indonesia-seorang-ulama-jadi-pemimpin-demo

TVN24 Online – KH Mustofa atau dikenal dengan Gus Mus, Ulama asal Rembang memberikan komentar dengan banyaknya sebutan ustaz atau ulama yang tiba tiba melekat kepada diri seseorang. Dirinya menyebutkan gelar ulama sesungguhnya adalah orang yang mencerminkan perilaku yang baik dan saleh.

Gus Mus menyatakan bahwa seseorang dipanggil dengan sebutkan ulama adalah seseorang yang seharusnya bisa menunjukan kesalehan pribadinya. Seorang ulama yang baik yang memiliki ukuran nilai kepantasan.

“Ulama kok sobo ( bermain ) pendopo itu apa, apa ulama itu mau ikut tender ? Ulama kok menjadi pemimpin demo. Ini sangat aneh sekali,” kritik Gus Mus saat dirinya menjadi narasumber anti hoax di daerah Semarang, Kamis ( 20/4/17 ).

” Jadi apa kepantasan laki laki itu buat apa, bupati itu apa. Dari nurani saja sudah sangat cuku[, cukup gak kalau ( mereka yang berdemo ) dipanggil kiai?,” kata Gus Mus.

Gus Mus menegaskan untuk ukuran kepantasan seseorang yang disebut ulama penting adanya. Hal itu karena masyarakat sangat tidak tahu mental dari seseorang itu.

Gus Mus yang juga merupakan pengasuh di Pondok Pesantren Raudlatul Tholibin Leteh Rembang ini kemudian juga menkritik relasi antara ulama dan pemerintah. Dirinya mengatakan bahwa ukuran antara pemerintah dan umara ( pemerintah ) harus dapat dibedakan. Yang baik menurut seorang ulama, belum tentu baik menurut pemerintah, ujar Gus Mus.

Jika konsep kesalehan diberikan kepada ulama maka polisi tidak akan mendapatkan kesalehan.”Kesalehan pejabat, Ulama, itu berbeda beda. Kalau Gubernur beritikaf di masjid sampai Dzuhur, tiap malam mendatangi pengajian, itu buruk sekali, itu bukan namanya saleh,” ujar Gus Mus.

Karena adanya hal itu kemudian Gus Mus meminta agar tugas pemerintah dan ulama tidak saling tumpang tindih. Pembagian tuga itu yang harus diperhatikan secara seksama.

“Di orde baru, ada istilah ulama dan umara ( pemerintah ). Kalau ulama itu baik, umara baik, itu sangat baik. tapi kalau baik baikan itu yang rusak. Tentu baik baikan di dalam artian yang sangat buruk,”tambah nya.

“Ulama misalnya diajak untuk mencarikan dalil. ayatnya pasti itu itu saja, dulu dicari ayat revolusi waktu di jaman Pak Karno, Lalu kemudian ayat pembangunan di Zaman Pak Harto. Padahal ayat itu tidak bicara revolusi, akan tetapi pembangunan manusia secara utuh,” tutupnya.(TVN24 Online)