PM Australia Menelepon Jokowi Membahas Kapal Selam Nuklir

TVN24 Online — Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison membahas mengenai rencana Negeri Kanguru tersebut dalam membuat kapal selam nuklir bersama Amerika Serikat dan Inggris.

Teuku Faizasyah selaku juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), menginformasikan mengenai kabar perbincangan yang dilakukan Jokowi dan Morisson, pada Senin (20/9).

“Benar, ada komunikasi melalui telepon kemarin sore,” kata Juru Bicara Kedutaan Besar Australia Teuku Faizasyah ketika dikonfirmasi pada, Selasa (21/9).

“Saya tidak mengetahui substansinya, akan tetapi, akan wajar apabila kedua Kepala Pemerintahan membicarakan perkembangan terkini,” imbuh Faizasyah.


Sydney Morning Herald sebelumnya mengatakan, bahwa Morrison berbicara dengan Jokowi melalui telepon pada pekan ini untuk menginformasikan perkembangan terkini mengenai pembuatan kapal selam nuklir.

Setelah Negeri Kanguru tersebut memutuskan untuk mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir, Indonesia sudah mengingatkan Australia agar memenuhi kewajibannya terkait pembatasan senjata nuklir.

Dari pernyataan pemerintah Indonesia melalui situs resmi Kementerian Luar Negeri, Jumat (17/9), menuliskan bahwa Indonesia menekankan pentingnya komitmen Australia untuk terus memenuhi kewajibannya mengenai non-proliferasi nuklir.

Tidak sampai disitu, Kemlu juga menyatakan bahwa Indonesia sangat prihatin mengenai perlombaan senjata dan proyeksi kekuatan militer di kawasan yang semakin meningkat dalam beberapa waktu belakangan ini.

Bukan hanya menelepon Indonesia, Morrison dikabarkan juga menelpon Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, dan juga Perdana Menteri India Narendra Modi.

Malaysia Khawatir Kapal Selam Nuklir Australia Picu Perlombaan Senjata  Nuklir - Dunia Tempo.co

Pada konferensi pers virtual pada Rabu (15/9), Australia, Inggris, dan Amerika Serikat mengumumkan mengenai kerja sama trilateral mereka, AUKUS.

Pada program pertamanya, AUKUS merencanakan untuk mengembangkan kapal selam dengan tenaga nuklir untuk armada laut Australia. Kerja sama ini pun menimbulkan respon yang negatif dari berbagai pihak, seperti China dan Prancis, dan membuat China dan Prancis geram.