Pro Kontra Legalnya Ganja di Thailand

TVN24 Online — Kekhawatiran dirasakan para pejabat kesehatan Thailand. Mereka khawatir akan penyalahgunaan ganja untuk keperluan rekreasi terutama bagi para kaum muda, sebab dianggap menghambat kinerja otak dalam belajar atau bodoh.

Direktur Jenderal Departemen Pelayanan Kesehatan Thailand, Somsak Akksilp, memberikan peringatan pada kelompok usia di bawah 25 tahun, bahwa ganja tak digunakan untuk keperluan rekreasi.

“Dampak ganja ke otak dan sistem saraf. Terutama terhadap siswa, bisa mempengaruhi kemampuan belajarnya,” ujar Somsak, Senin (13/6) dilansir dari Bangkok Post.

Dia meminta agar sekolah-sekolah, para orang tua dan yang lain untuk bisa benar-benar melindungi anak muda dari penggunaan ganja secara sembarangan.

Somsak memberi peringatan, bahwa penggunaan ganja hanya diperuntukkan untuk kepentingan medis dan di bawah pengawasan dokter.

“Kami tahu argumen yang mendukung [ganja] dengan baik, tetapi yang kontra termasuk kecanduan dan kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengemudi di bawah pengaruhnya, ini sudah terjadi di negara lain,” jelasnya.

Dia melanjutkan, jika efek samping penggunaan ganja tanpa pengawasan dokter, meliputi tenggorokan kering, jantung berdebar, insomnia dan kecemasan.

Somsak mengungkapkan, bahwa pihaknya sudah mempersiapkan hotline 1165 bagi orang yang membutuhkan saran terkait penggunaan ganja sesuai aturan.

Ia juga mengharapkan, agar lebih banyak diskusi dilakukan untuk membahas pro dan kontra penggunaan ganja.

Pengesahan RUU Ganja

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand, Anutin Charnvirakul, menginginkan pengesahan RUU ganja dan rami yang disahkan minggu lalu dapat  menjadi undang-undang secepat mungkin.

Dia menambahkan, komite DPR yang memeriksa rancangan undang-undang akan mempertimbangkan semua kekhawatiran publik mengenai penggunaan ganja yang tidak tepat. Apalagii di kalangan remaja yang dirasa  sebagai kelompok yang memiliki resiko menggunakan  ganja untuk keperluan rekreasi.

Ia menegaskan, bahwa Kemenkes Thailand hanya mendukung penggunaan ganja untuk tujuan medis dan merangsang pertumbuhan ekonomi negara.

Anatin menilai, penggunaan ganja yang tak tepat, tak berkaitan dengan kebijakan pemerintah soal tanaman tersebut.

Menurut para pengamat, kekhawatiran mengenai penggunaan ganja untuk rekreasi timbul sebab kurangnya peraturan yang tepat setelah pemerintah resmi mendekriminalisasi tanaman ini pada 9 Juni lalu.

Diketahui, Thailand melegalkan ganja untuk keperluan medis dan kosmetik. Legalisasi ganja ini dilakukan untuk meringankan kondisi kesehatan dan meningkatkan kesehatan yang baik di tingkat rumah tangga.

Demi merealisasikan rencana tersebut, pemerintah pun membagi-bagikan tanaman ganja ke setiap rumah penduduk.

4 thoughts on “Pro Kontra Legalnya Ganja di Thailand”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.