Protes Kudeta Milter Sudan, Tiga Orang Diberitakan Tewas 

TVN24 Online — Selama aksi protes menentang kudeta militer di Sudan, ada tiga orang yang dilaporkan tewas karena ditembak oleh angkatan bersenjata. Dalam catatan mereka, setidaknya ada 80 orang yang terluka ketika bentrok dengan angkatan bersenjata.

Diketahui sebelumnya, pasukan militer gabungan dilaporkan menjadi dalang penahanan Perdana Menteri Sudan Abdalla Hamdok dalam kudeta pada Senin (25/10).

Dikutip dari CNN, beberapa sumber pemerintah melaporkan, bahwa kejadian tersebut berlangsung ketika sejumlah pejabat telah ditahan di penjara oleh kelompok yang tidak dikenal yang mengenakan seragam polisi militer.

Para pejabat yang ditahan dan ditangkap tersebut termasuk para menteri kabinet dan anggota Dewan Kedaulatan Sudan.

Pada Senin pagi, sejumlah saksi mata mengungkapkan, para demonstran berkumpul di jalanan Ibu Kota untuk memprotes penahanan para pejabat.

Aksi protes yang dilakukan ini merupakan imbas dari krisis politik yang terjadi di negara Afrika Utara itu selama bertahun-tahun.

Pasukan utusan Amerika Serikat mengatakan, bahwa mereka telah menghubungi Perdana Menteri Sudan Abdalla Hamdok setelah militer mengambil alih pemerintahan transisi, tetapi tidak dapat jawaban.

Kudeta

Tiga Orang Tewas dalam Protes Kudeta Milter Sudan

Semenjak kudeta yang terjadi pada April 2019 berhasil menggulingkan mantan Presiden Sudan Omar al-Bashir, militer dan kelompok masyarakat sipil pro-demokrasi masih juga  berselisih memperebutkan kursi pemerintahan meski telah sepakat berdamai dan membagi kekuasaan.

Akan tetapi, menurur para pemimpin dari kelompok sipil, militer Sudan berupaya meraih kekuasaan yang lebih besar. kemudian, pertentangan pun menjadi salah satu alasan terjadinya kudeta pemerintahan di negara itu.

Ribuan orang berkumpul di Istana Kepresidenan Khartoum pada 16 Oktober yang lalu untuk menyerukan transisi pemerintah Sudan dengan meminta militer mengambil-alih kekuasaan.

Para pendemo meminta Kepala Angkatan Bersenjata Sudan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan serta Dewan Kedaulatan Sudan yang terdiri dari kelompok militer dan sipil untuk menggulingkan pemerintahan.

Kemudian pada Kamis (21/10) demonstrasi kembali terjadi di kota-kota besar Sudan. Demo tersebut untuk menyerukan turunnya penguasa dan menyatakan dukungan mereka pada pihak sipil.