Tolak Bantuan Astra Zeneca, Korea Utara Tertarik Vaksin Buatan Rusia

TVN24 Online — Pada Februari 2021 lalu Korea Utara telah meminta bantuan internasional terkait vaksin Covid-19.

Menurut lembaga yang memimpin program berbagi vaksin COVAX, Korea Utara diperkirakan akan menerima hampir dua juta dosis vaksin Covid-19 Astra Zeneca-Oxford.

Hal ini tentu saja mengundang tanda tanya dikarenakan klaim 0 kasus Covid di Korea Utara. Pihak Korea Utara telah lama bersikeras bahwa mereka tidak memiliki satu pun kasus Corona.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengulangi klaim tersebut pada parade militer besar-besaran pada bulan Oktober 2020 lalu. Para ahli menilai hal tersebut tidak mungkin, mengingat virus Covid 19 pertama kali muncul di negara tetangganya yaitu China.

Meskipun begitu, kebijakan pembatasan yang ketat, termasuk penutupan perbatasan negara dan pembatasan perjalanan domestik, diberlakukan sebagai upaya pencegahan penularan virus corona.

Juru bicara Gavi kepada AFP mengatakan bahwa semua negara yang menerima alokasi vaksin telah mengajukan permintaan.

Alokasi yang tercantum dalam laporan itu menunjukkan perkiraan pasokan terbaru dan mempertimbangkan kesiapan negara serta persetujuan regulasi, tambahnya.

Menurut laporan, Korea Utara akan mendapat vaksin Astra Zeneca-Oxford yang diproduksi Serum Institute of India.

Namun kini, ketika rencana pengiriman vaksin hendak dilakukan, Korea Utara justru menolaknya.

 

Korea Utara menolak Astra Zeneca

Korea Utara menolak rencana pengiriman Vaksin Astra Zeneca yang diselenggarakan di bawah skema distribusi COVAX global.

Menurut laporan Institute for National Security Strategy (INSS), pihak Korea Utara mengkhawatirkan efek Vaksin Astra Zeneca. Hal ini dikarenakan muncul laporan kejadian pembekuan darah yang langka tapi serius di antara beberapa penerima vaksin itu.

INSS juga mengatakan, Korea Utara juga tidak menunjukkan ketertarikan lagi akan vaksin produksi China. Korea Utara beralasan khawatir vaksin dari China tidak akan terlalu efektif dalam melawan COVID-19.

Korea Utara saat ini tengah mencari-cari opsi vaksin lainnya. Dan pada akhirnya Korea Utara mengarahkan kebutuhan vaksinnya terhadap vaksin buatan Rusia.

Kim Jong-un disebut tertarik dengan vaksin-vaksin yang dikembangkan oleh Rusia. Mereka berharap Rusia akan mendonasikan vaksin corona secara gratis.

“Korea Utara lebih condong terhadap vaksin Rusia, tetapi belum ada perjanjian yang dibentuk oleh keduanya,” ujar Direktur Penelitian Strategis atas Semenanjung Korea di INSS, Lee Sang-keun, seperti dikutip dari Reuters.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, pada Rabu 07 Juli 2021 mengungkapkan Rusia telah beberapa kali menawarkan vaksin kepada pemerintahan Korea Utara.

Saat ini Rusia kembali menawarkan bantuan vaksin corona kepada Korea Utara. Hal ini disebabkan jumlah kasus covid-19 di Korea Utara memburuk akibat lockdown yang menyebabkan kelaparan ekstrim di negara tersebut.

Namun Pyongyang dikabarkan telah menolak vaksin dan sejumlah bantuan dari negara lain. Korea Utara menutup pintu perbatasannya untuk mencegah meluasnya kasus Corona.

Namun hal itu berdampak terhadap perdagangan dengan China. Selama ini Korea Utara bergantung ke China untuk suplai makanan, pupuk dan bahan bakar.

Pimpinan Korea Utara Kim Jong Un mengakui negaranya sedang menghadapi krisis pangan. Dia juga meminta warganya untuk mempersiapkan hal terburuk.

Terlebih sanksi perdagangan internasional semakin menekan pasokan makanan. Korea Utara pernah dilanda bencana kelaparan mematikan pada 1990-an.

Rusia sebelumnya mengatakan kepada Korea Utara bahwa tidak semua negara dapat menanggung dampak lockdown. Buruknya penanganan kasus corona di Korea Utara membuat Kim Jong Un, melakukan pemecatan kepada sejumlah pejabat seniornya.

Kim Jong Un juga berkata, kegagalan mereka berperan mengantar Korea Utara ke dalam krisis besar. Salah satu krisis yang dihadapi Korea Utara saat ini adalah minimnya persediaan bahan pokok.

Sejak pandemi COVID-19 menyerang, ditambah cuaca buruk dan isu perdagangan, ekspor dari Cina menurun hingga 90 persen. Hal tersebut berakibat naiknya harga-harga kebutuhan pokok seperti harga satu paket kopi bisa mencapai US$100.

“Pejabat senior yang diserahi tugas negara (untuk mengendalikan pandemi) telah mengabaikan perintah yang datang dari partai. Ujungnya menyebabkan krisis besar yang mengancam keamanan nasional dan warga. Akan ada konsekuensi besar,” ujar Kim Jong Un dalam laporan kantor berita Korea Utara, KCNA, Rabu, 30 Juni 2021