Usai Demo Tuntut Presiden Xi Jinping Mundur, China Perketat Keamanan

TVN24 Online — Setelah demonstrasi menuntut Presiden Xi Jinping mundur pecah di berbagai wilayah Beijing pada akhir pekan lalu, kepolisian China pun lebih memperketat keamanannya.

Dilansir dari Reuters, puluhan polisi pada Senin (28/11) terlihat berjaga di Beijing dan Shanghai, tepatnya di titik-titik lokasi demonstrasi pada akhir pekan lalu. Terlihat polisi yang tetap berjaga walaupun tak ada tanda-tanda orang melakukan protes.

Pihak kepolisian juga  memberhentikan orang-orang yang lewat. Bahkan mereka juga melakukan pengecekan terhadap ponsel warga yang melintas di lokasi unjuk rasa pekan lalu itu.

Petugas memeriksa ponsel untuk memastikan bahwa warga tidak mempunyai jaringan pribadi virtual (VPN) dan aplikasi Telegram. Sebab, kedua aplikasi tersebut dipergunakan para demonstran untuk berkomunikasi selama demo.

Seperti diketahui, China memang tak memperbolehkan warganya menggunakan VPN. Sementara untuk Telegram, sudah diblokir dari internet Beijing. Akan tetapi, warga tetap bisa mengakses sejumlah situs yang dilarang tersebut apabila menggunakan VPN.

Tak hanya memeriksa ponsel warga, polisi juga menjaga ketat lokasi-lokasi demo akhir pekan lalu.

AFP melaporkan, terlihat petugas yang menggiring tiga warga di Shanghai. Mereka dilarang untuk mengambil foto ataupun video dari lokasi tersebut.

Sementara itu, di media sosial, mesin sensor daring China juga dikerahkan untuk menghapus tanda-tanda demonstrasi di wilayah tersebut.

Polisi memperketat keamanan usai adanya sejumlah aksi demonstrasi yang pecah di beberapa kota China. Di mana para demonstran menolak kebijakan nol Covid di negara itu.

Protes sendiri pertama kali disebabkan oleh kebakaran apartemen di Urumqi, Xinjiang, yang menelan 10 orang tewas pada pekan lalu.

Di sini, para warga menganggap korban berjatuhan sebab petugas pemadam kebakaran terlambat tiba di lokasi karena terhambat lockdown yang terlalu ketat.

Kemarahan pun meluas secara sporadis hingga ke Beijing, Guangzhou, bahkan Shanghai selama akhir pekan kemarin. Mereka bersama-sama mendesak Presiden China Xi Jinping untuk mundur.

Ketika melakukan aksi demo, para demonstran mengacungkan kertas putih yang melambangkan frustrasi mereka sebab tak bebas menyuarakan opini karena sistem sensor yang terlampau ketat di China.

Beberapa pedemo dan wartawan, termasuk jurnalis asing, juga dilaporkan ditahan kepolisian China selama demonstrasi berlangsung.

Aksi demonstrasi seperti ini dianggap langka di China, sebab negara tersebut memiliki sistem sensor dan keamanan yang ketat. Aksi ini pun disebut-sebut sebagai aksi demonstrasi terbesar semenjak insiden Tiananmen pada 1989 silam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.