Usai Kebakaran, Kini Lapas Kelas 1 Tangerang Dinonaktifkan

TVN24 Online — Rika Aprianti, Kepala Bagian Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan menyatakan, Victor Teguh Prihartono selaku Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, dinonaktifkan dari jabatan setelah insiden kebakaran yang terjadi di Lapas Kelas I Tangerang yang memakan korban.

Rika mengatakan, jika penonaktifan jabatan Kalapas tersebut dilakukan untuk kepentingan proses pemeriksaan Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), setelah peristiwa kebakaran hebat yang membuat sebanyak 41 orang meninggal dunia.

“Di nonaktifkan untuk proses pemeriksaan Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM,” ujar Rika, dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (17/9/2021).

Penonaktifan jabatan Kalapas tersebut mulai berlaku pada hari ini 17 September. Walaupun demikian, jabatan Kalapas Kelas I Tangerang saat ini dijabat oleh Plh Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Banten, Nirhono Jatmokoadi.

“Hari ini dan saat ini Lapas Kelas 1 Tangerang ditanggungj awabkan oleh Plh Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Banten,” ujar Rika.

Diberitakan sebelumnya, Kebakaran hebat terjadi di Lapas Kelas I Tangerang sekitar pukul 01.45 WIB Rabu 8 September 2021. Dalam insiden tersebut mengakibatkan sebanyak 41 orang meninggal yang kemudian dilarikan ke RSUD Kabupaten Tangerang.

Sampai saat ini, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sudah menyerahkan setidaknya 38 jenazah dari 41 korban meninggal dunia pada kebakaran Lapas Kelas I Tangerang, Banten. Ke 38 jenazah itulah yang baru berhasil diidentifikasi Tim Disaster VIctim Identification (DVI) Polri.

Setidaknya masih ada tiga jenazah korban kebakaran Lapas Kelas I Tangerang yang disimpan di ruang Forensik RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Ketiga jenazah tersebut adalah Ricardo Ussumane Embalo bin Antonio Embalo (51), warga negara Portugal yang telah berhasil diidentifikasi dengan pencocokan DNA dan rekam medis.

Lalu, dua jenazah lainnya walaupun sudah dikenali Tim DVI, tetapi masih dibutuhkan identifikasi secara legal melalui lima data yakni, medis, DNA, gigi, properti, dan sidik jari.