Usai Rehat 10 Tahun, Ini Alasan Ramos Horta Mau Jadi Presiden Timor Leste 

TVN24 Online — Jose Ramos Horta, Presiden Timor Leste, menuturkan alasannya mencalonkan diri sebagai presiden di periode kedua setelah rehat selama 10 tahun.

Ramos mengungkapkan alasan mencalonkan diri sebagai presiden ketika berbincang dengan Najwa Shihab, dalam video wawancara yang dirilis di kanal YouTube “Najwa Shihab” pada Kamis (21/7).

“Salah satu alasan [mencalonkan diri] sebagai presiden, saya mengetahui batasan kekuasaan jabatan kepresidenan dalam sistem politik kami,” jelas Ramos Horta kepada Najwa.

“Tapi walau demikian, saya akan menunjukkan sikap dan terlibat penuh dalam perekonomian negeri,” kata Ramos Horta menambahkan.

Kemudian Ramos Horta menjabarkan apa visinya, di mana dalam lima tahun ke depan ekonomi Timor Leste harus bergerak dengan cepat.

“Kami harus berinvestasi lebih di sektor pertanian, pendidikan, kesehatan, air bersih. Kami harus membawa investasi dari Indonesia, dari China, Korea atau negara lain,” ujarnya lagi.

Ia juga ingin mengundang perusahaan farmasi dari Eropa, perusahaan medis, peralatan medis serta perusahaan fashion supaya bersedia untuk berinvestasi di negaranya.

Dia melanjutka , Timor Leste bisa menjadi tempat manufaktur baru yang sangat penting. Yang mana tidak berdasarkan tenaga kerja murah seperti di Bangladesh atau vietnam.

“Kami mencoba industri fesyen kelas atas yang mempekerjakan sedikit orang tapi dengan upah yang lebih baik,” tutur Ramos.

Bukan hanya akan mengembangkan ekonomi, ia juga berjanji akan memberantas kemiskinan ekstrem sert malnutrisi yang menyerang anak-anak.

Kembali menjadi presiden

Diketahui, Ramos Horta kembali terpilih menjadi Presiden Timor Leste setelah berhasil mengalahkan Fransisco Lu Olo Gutteres, dengan perolehan suara sebanyak 62 persen 19 April lalu.

Kemudian dia dilantik pada 20 Mei. Seperti informasi yang beredar, Ramos Horta pernah memerintah Timor Leste pada tahun 2007 hingga 2012.

Dia mengaku merasa lebih mudah dibanding periode pertama dalam memimpin Timor Leste kali ini.

“Lebih mudah karena pada 2007 saya mewarisi krisis politik dan keamanan serius, dan Timor Leste sangat terpecah belah,” jelas Ramos.

Menurutnya, pada tahun tersebut Timor Leste mempunyai masalah di tubuh militer, kepolisian dan kekerasan yang kemudian mempersulit dirinya menjalankan roda pemerintahan.

“Hari ini, Timor Leste adalah oase ketenangan. Kami tak punya kekerasan berbasis etnik, tak punya kekerasan politik, kami tak punya kekerasan agama, tak ada radikalisme agama atau politik,” ucapnya.

Ramos yakin Timor Leste tak memiliki kejahatan terorganisir, bahkan ia sering bersenda gurau dengan diksi “terorganisir.”

“Kadang saya bercanda, ‘Kami tak punya kejahatan terorganisir karena kami negara yang sangat tidak terorganisir’. Tak ada yang terorganisir,” pungkas dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *